Aku dan sujud syukurku(Sejumput makna dibalik peristiwa)
Arghhhhhhh…aku ingin teriak aku ingin lompat ..aku ingin terbang...aku ingin melayang
Tapi aku tak berdaya lidahku kelu dan hampir bisu kakiku tersandung segunung batu sayapku ngilu dan sudah menjadi kaku hasratku sekarat dan perlahan beranjak beku
Aku hanya bisa memeluk ingin dan memendam beragam angan rasaku diterbangkan oleh semilir angin badanku panas terbakar bara api unguntapi hati tak bergeming dan tetap saja dingin
Aku harus terus bergerakberputar dan berhenti merangkak menjaga jarak agar tidak lagi terinjak bangkitkan semangat dan keluar dari kotakmendekap sejumput harap untuk menggapai puncak
Aku harus belajar tega bilang TIDAKpada semua mimpi yang tak mungkin nyata tak peduli orang tergelak aku tetap harus berontak karena ternyata… aku masih menjadi manusia biasabelum sempurna walau katanya sudah setengah DEWA
Aku terduduk sangat khusudi atas hamparan sajadah beludrumata tertutup, bibir terkatup, jiwa menundukmencerna beragam makna dari rangkaian peristiwa yakinkan jiwa pada asa yang segera menjelma nyata
Aku berjalan di ujung senja mantapkan langkah tegakan kepala abaikan segala rasa lapangkan rongga dada seberkas cahaya bersinar terangi jiwa tajamkan mataPuji syukur… kini sebagian masalah telah berangsur sirna
Arghhhhhhh…aku ingin teriak aku ingin lompat ..aku ingin terbang...aku ingin melayang
Tapi aku tak berdaya lidahku kelu dan hampir bisu kakiku tersandung segunung batu sayapku ngilu dan sudah menjadi kaku hasratku sekarat dan perlahan beranjak beku
Aku hanya bisa memeluk ingin dan memendam beragam angan rasaku diterbangkan oleh semilir angin badanku panas terbakar bara api unguntapi hati tak bergeming dan tetap saja dingin
Aku harus terus bergerakberputar dan berhenti merangkak menjaga jarak agar tidak lagi terinjak bangkitkan semangat dan keluar dari kotakmendekap sejumput harap untuk menggapai puncak
Aku harus belajar tega bilang TIDAKpada semua mimpi yang tak mungkin nyata tak peduli orang tergelak aku tetap harus berontak karena ternyata… aku masih menjadi manusia biasabelum sempurna walau katanya sudah setengah DEWA
Aku terduduk sangat khusudi atas hamparan sajadah beludrumata tertutup, bibir terkatup, jiwa menundukmencerna beragam makna dari rangkaian peristiwa yakinkan jiwa pada asa yang segera menjelma nyata
Aku berjalan di ujung senja mantapkan langkah tegakan kepala abaikan segala rasa lapangkan rongga dada seberkas cahaya bersinar terangi jiwa tajamkan mataPuji syukur… kini sebagian masalah telah berangsur sirna


